Perenikahan kami sudah berjalan hampir 6 tahun, kami sudah dikaruniai dua anak yang sangat lucu. aku menikmati waktuku sebagai wanita karir, karirku bagus dan,,,,,, penghasilanku sangat lumayan. Entah apa yang alku fikirkan selama ini, benar atau salah menurut umum, yang jelas sebagai perempuan aku merasa harus melindungi diriku sendiri, masa tuaku dan terutama kesejahteraanku dari segi materi.Secara materi aku bisa memenuhi kebutuhanku dan anak-anakku tanpa campur tangan dari suamiku, yah.... maklum saja gaji suamiku memang tidak seberapa dibandingkan dengan gajiku, tak tega aku harus menuntutnya ini itu, sementara dia sebagai sulung yang masih harus menanggung kehidupan kedua orang tuanya.
Seiring dengan berjalannya waktu aku merasa ada dan tidaknya suamiku tidak begitu berarti buatku, meskipun aku menyadari betul anak-anakku sangat membutuhkan figurnya sebagi seorang ayah yang tidak mungkin aku berikanbisa aku gantikan. Sementara aku, hubungan suami istri tidaklah lebih dari suatu pemenuhan kebutuhan biologis. Aku tidak lagi memandang suamiku sebagai pelindungku, atau teman dalam pemecahan setiah masalah kehidupanku.
Semakin hari kehidupan rumah tanggaku semakin hambar, tidak ada lagi "saling membutuhkan" dengan cinta. Kami terus bertahan dengan kehidupan seperti ini demi anak-ank kami, sementara pribadi kami masing-masing meiliki kehidupan masing-masing yang jauh berbeda.
Tuhan seandainya pilkihan itu ada "aku akan memilih untuk tidak menikah dengannya dan tidak ada anak-anakku yang membutuhkannya" tapi semua itu terlamabat, dan aku..... hingga kini terjebak dalam ego yang entah sampai kapan aku mampu untuk membendungnya.Aku tahu keluargaku yang akan jadi taruhannya, anak-anakku yang akan jadi korbannya, tapi argh...... saat ini aku belum juga bisa...........