Menyesal yang saat ini aku rasakan. Karena sifatku aku kehilangan sebagian kebahagiaan yang sangat berarti dalam hidupku.
Semua berawal sejak awal pernikahanku, mungkin aku termasuk tipe wanita penuntut, kurang perhatian dan selalu mengedepankan perasaan dalam menjalani keseharian rumah tanggaku. hal yang sangat membuat hati dan rumah tanggaku tidak tenang adalah kasih sayang suamiku keluarganya. Aku sangat tidak rela jika aku harus berbagi kasih bahkan materi suamiku dengan mereka. Rasa iri terus mewarnai hari-hariku, aku selalu menuntut suamiku untuk ini dan itu, sampai aku lupa apakah aku sudah memberikan yang terbaik kepadanya???
Secara materi suamiku bisa dikatakan memberikan lebih dari cukup, bahkan dari waktu ke waktu keadaan ekonomi rumah tanggaku semakin meningkat. Mobil, rumah semua yang aku mau, suamiku selalu memberi untukku, dan semuanya atas namaku. Semua itu membuatku semakin takut dan sombong dengan apa yang aku miliki, dan kesalahan terbesarku adalah sikapku yang tidak baik dan cenderung menyepelehkan suamiku dan keluarganya, entah sudah berapa lama semua ini terjadi. Aku membuat jurang yang sangat dalam antara aku dan adik-adik iparku, dan itu sangat menyakitkan suamiku sebagai anak tertua dalam keluarganya.
Mungkin aku tidak akan pernah melakukan itu jika aku tau yang akan terjadi, seharusnya saat itu aku berfikir, berbagi kasih sayang adalah hal yang sangat menyenangkan, toh mereka juga saudaraku. Berbagi materi dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dari kebutuhan bulananku adalah hal yang sangat wajar sebagai istri dari kakak tertua adik-adik iparku.
Tapi penyesalan yang selalu datang terlambat memang tidak ada gunanya. Keegoisan yang menutup akal karena selalu mengedepankan perasaan akan selalu membawa dalam kehancuran. Kini aku tidak lagi berbagi kasih sayang dan materi suamiku dengan adik ipar dan mertuaku saja, tapi dengan wanita lain. Ya, aku terlalu sibuk dengan perasaanku sehingga aku lupa bahwa suamiku juga manusia yang ingin dihormati dan dijaga perasaannya. Aku gagal menjadi seorang istri, teman dan ibu yang menyenangkan dan baik bagi suamiku. Kini aku menjadi wanita yang penuh penyesalan dan perasaan yang lebih sakit, karena harus berbagi suamiku dengan perempuan lain.Dan semua materi yang aku miliki tidaklah berarti lagi.....
Satu hal yang aku ambil dalam perjalan hidupku, suamiku bukanlah mesin pencetak uang yang tidak punya perasaan dan rasa ingin dibahagiakan.
Semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari tulisan ini, dan tidak mengalami hal yang sama, materi sebesar apapun yang kita miliki tidak akan bisa menggantikan kebahagiaan dimana kita bisa mendapatkan dan memberikan kasih sayang kepada keluarga dan orang-orang terdekat kita
